UT Bengkulu Hadirkan Solusi Kuliah Fleksibel bagi Pegawai hingga Warga Binaan di Bapas Kelas I Bengkulu

BENGKULU – Universitas Terbuka (UT) Bengkulu kembali menunjukkan komitmennya dalam membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya dengan hadir langsung di Kantor Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Bengkulu pada Selasa, 26 Mei 2026. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala Bapas Kelas I Bengkulu, Aidil Jumidi, S.H., M.H., yang mendorong seluruh staf dan jajarannya untuk memanfaatkan sistem perkuliahan di UT guna melanjutkan studi ke jenjang S1, S2, maupun S3 tanpa harus mengorbankan jam dinas. Menyambut hal tersebut, Direktur UT Bengkulu, Anton Robiansyah, S.E., M.Ak., CertIPSAS, memaparkan bahwa kehadiran UT merupakan perwujudan nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi—yang mencakup aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Melalui semangat pengabdian ini, UT Bengkulu siap bersinergi mendukung kegiatan Bapas sekaligus membuka peluang bagi pegawai yang sudah berpendidikan S2 atau S3 untuk bergabung menjadi tutor.

Dalam sesi sosialisasi yang berlangsung interaktif, tim UT Bengkulu mengupas tuntas keunggulan sistem belajar jarak jauh yang ramah bagi para pekerja serta efisien untuk kelangsungan karier pegawai. Informasi edukasi ini tidak hanya ditujukan bagi internal pegawai, melainkan juga dapat dibagikan kepada anak, saudara, dan keluarga besar mereka. Menariknya, ruang diskusi juga membuka wawasan mengenai peluang inklusif bagi warga binaan di bawah naungan Bapas untuk tetap bisa mengecap bangku kuliah demi memperbaiki masa depan, mengingat sistem perkuliahan UT yang fleksibel tidak mengharuskan kehadiran fisik di kelas setiap hari.

Suasana pertemuan mengalir dinamis dan penuh keakraban tanpa sekat formalitas yang kaku. Antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya pegawai Bapas Kelas I Bengkulu yang aktif bertanya mengenai pilihan program studi, teknis perkuliahan online, hingga sistem pendaftaran mahasiswa baru. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa UT Bengkulu hadir sebagai solusi pendidikan tinggi yang inklusif, meruntuhkan batasan ruang dan waktu untuk siapa saja—mulai dari aparatur sipil negara, masyarakat umum, hingga warga binaan.